Arsip Blog

TEORI ASAL MULA BAHASA

bahasaTelah banyak catatan mengenai asal mula bahasa dalam dunia mitologi dan cerita-cerita lainnya mengenai asal mula bahasa, perkembangan dari bahasa dan alasan di belakang beragamnya bahasa pada saat sekarang.

Mitos-mitos ini memiliki kesamaan, tema yang berulang-ulang, dan perbedaan, diturunkan lewat tradisi lisan. Beberapa mitos malah lebih dari hanya cerita dan kepercayaan, dengan beberapa kejadian memiliki interpretasi literal bahkan sampai sekarang. Tema yang berulang dalam mitos perbedaan bahasa adalah banjir dan bencana. Banyak cerita mengatakan sebuah banjir yang menyebabkan masyarakat di Bumi ini menyebar keseluruh permukaan planet. Hukuman oleh tuhan atau dewa-dewi karena melakukan kesalahan pada pihak manusia juga merupakan tema yang berulang.

Mitos mengenai asal mula bahasa secara garis besar digolongkan atau dicatat ke dalam mitos penciptaan, walaupun mereka berbeda. Beberapa cerita mengatakan pencipta memberkahi bahasa sejak dari awalnya, yang lain menganggap bahasa sebagai hadiah kemudian hari, atau sebagai kutukan.

Berbicara tentang asal usul bahasa, kita berhadapan dengan suatu aspek kajian yang paling banyak dipertentangkan.

Hasil Studi yg selama ini dikembangkan untuk dapat melacak secara tepat bagaimana sesungguhnya asal-usul bahasa, belum ada yang memuaskan. Karena itu, di antara para penyelidik tentang genealogi keberbahasaan manusia, masih sulit untuk dicapai kesepakatan tunggal yg bersifat final.

Begitu muncul pertanyaan “Bagaimana Mulanya bahasa itu Lahir?”. Kita akan bersinggungan dengan banyak teori yg saling kontradiktif. Masing – masing teori mencoba menjelaskan secara spesifik tentang asal bahasa. Beberapa teori dan pendapat itu memilih jawaban yg beragam. Ada yg cukup ilmiah dan rasional, ada pula yg terkesan lucu, bahkan kadang terasa aneh dan tak masuk akal. Bahkan karena terlalu sulitnya sumber-sumber yg bisa menjelaskan secara akurat tentang asal-usul bahasa, pada tahun 1866 masyarakat linguis Perancis sempat melarang mendiskusikan subjek tersebut, karena hal itu dianggap hanya spekulasi yg sama sekali tidak berarti. Membicarakan asal bahasa, menurut mereka sebuah pertentangan yg sia-sia.

Penyelidikan Antropologi telah membuktikan bahwa kebanyakan kebudayaan primitif menyakini tentang adanya keterlibatan Dewa atau Tuhan dalam permulaan sejarah berbahasa mereka. Menurut mereka, Tuhanlah yg mengajarkan Nabi Adam nama-nama benda, sebagaimana termaktub dalam kita kejadian sebagai berikut :

“ And the Lord God having formed out of the ground all the beasts of the earth, and all the fowls of the air, brought them to Adam to see what be wold call them ; for whatsoever Adam called any living creature the same is its name.”

Dikatakan pula bahwa manusia diciptakan secara stimulan. Pada penciptaan ini, manusia dikaruniai kemampuan berbahasa sebagai anugerah Illahi. Konon di Surga Tuhan berdialog dengan Nabi Adam dalam bahasa Yahudi.

Sebelum abad ke-18 teori – teori asal bahasa yg semacam ini dikategorikan sebagai divine origin (berdasarkan kepercayaan).

Pada abad ke-17, Andeas Kemke, seorang ahli filologi dari Swedia menyatakan bahwa di surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia. Menurutnya, Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbicara dengan bahasa Perancis.

Selain berbagai mitos muasal bahasa yg berkembang di Barat, di Timur hal semacam itu juga bermunculan. Mesir misalnya, punya legenda berkenaan dengan asal-usul bahasa. Konon, pada abad ke-17 SM, Raja Mesir, Psammetichus, mengadakan penyelidikjan tentang bahasa pertama. Menurut sang Raja kalau seorang bayi dibiarkan semenjak lahir tanpa diperdengarkan dan diperkenalkan terhadap bahasa apapun, maka ia akan tumbuh dan berbicara menggunakan “bahasa asal”. Untuk melaksanakan penyelidikan tersebut diambillah dua orang bayi dari keluarga biasa, dan diserahkan kepada seorang pengembala untuk kemudian dirawatnya. Gembala tersebut dilarang berbicara sepatah kata pun kepada bayi-bayi tersebut. Setelah sang bayi berusia dua tahun, mereka dengan spontan menyambut si gembala dengan kata, “BECOS”. Segera si penggembala tadi menghadap Sri Baginda dan diceritakannya hal tersebut. Psammetichus segera menelitinya dan berkonsultasi dengan para penasehatnya. Menurut mereka, “BECOS” berarti Roti dalam bahasa Phyrgia (bahasa Mesir kuno). Dan inilah bahasa pertama manusia menurut mereka. Cerita ini dikisahkan turun temurun, bahwa bahasa pertama manusia adalah bahasa Mesir.

Di Asia, tepatnya di China, Mitos tentang asal-usul bahasa juga berkembang. Kaisar Cina Tien-Tzu, dipercaya sebagai anak Tuhan. Konon dialah yg mengajarkan bahasa pertama kepada manusia. Ada juga versi lain yg tak kalah menggemaskan, bahwa yg membawa bahasa (tulisan) kepada orang-orang Cina adalah seekor kura-kura yg diutus langsung oleh Tuhan.

Di Jepang bahasa pertama pun dihubungkan dengan Tuhan mereka, Amaterasu. Orang-orang Babilonia percaya bahwa bahasa pertama berasal dari Tuhan mereka, Nabu. Brahmana mengajarkan tulis-menulis kepada ras Hindu di India sana. Dan masih banyak cerita-cerita yg bernada sama dengan berbagai kebudayaan dahulu dan berkembang di banyak kebudayaan kelompok tertentu.

Baru pada bagian akhir abad ke-18 spekulasi asal – usul bahasa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik, takhayul ke alam paradigma pengetahuan baru yg disebut “ORGANIC PHASE” ( fase organik). Pada fase ini, pergeseran paradigmatik dalam memahami asal – usul bahasa dimulai dengan terbitnya “UBER DEN ORGANIC PHASE” (dalam terjemahan bahasa inggris : “ON THE ORIGIN OF LANGUAGE)

Pada tahun 1772, ditulis oleh Johann Gottfried Von Herder (1744-1803). Ia mengemukakan bahwa tidaklah tepat dikatakan bahwa bahasa merupakan anugerah Illahi. Menurut Von Herder bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba – coba berfikir.
Bahasa adalah akibat hentakan dari suatu kehendak yg bekerja secara insingtif, seperti halnya janin dalam proses kelahiran.

Teori ini bersamaan dengan mulai timbulnya teori EVOLUSI manusia yg diprakarsai oleh Immanuel Kant (1724-1804) yg kemudian disusul oleh Charles Darwin. Menurut Darwin (1809-1882) dalam “DESCENT MAN” (1871), kualitas bahasa manusia dengan bahasa binatang hanya berbeda dalam tingakatannya saja. Kalau pun ada perbedaan barangkali hanya dari ekspresi emosinya saja. Sebagai contoh, perasaan jengkel atau jijik terlahirkan dengan mengeluarkan udara dari hidung dan mulut, terdengar seperti bunyi “POOH” atau “PISH”. Ekspresi kejengkelan semacam ini, kata Darwin dimiliki manusia sekaligus binatang. Namun Mark Muller (1823-1900) ahli filologi dari Jerman tidak sependapat dengan Darwin. Muller meledek teori ini, menyebutnya sebagai “POOH-POHH THEORY”.

Teori Darwin ini juga tidak disetujui oleh para sarjana berikutnya seperti Edward Sapir (1884-1939) dari Amerika. Mark Muller kemudian memperkenalkan “DINGDONG THEORY” atau disebut juga “NATIVISTIK THEORY”.

Dalam beberapa hal teori ini sedikit sejalan dengan apa yg di ajukan Socrates.
“Bahwa bahasa lahir secara alamiah dan ilmiah”. Menurut teori ini, manusia mempunyai kemampuan insting yg istimewa untuk mengeluarkan eksperi ujaran untuk setiap kesan yg ditemuinya sebagai stimulus dari luar. Kesan yg diterima lewat indra, bagaikan pukulan pada bel hingga mengeluarkan ucapan yg sesuai. Menurut Muller, kurang lebih ada empat ratus bunyi pokok yg membentuk bahasa pertama ini. Sewaktu orang primitif dulu melihat seekor srigala, pandangan ini menggetarkan bel yg ada pada dirinya secara insting sehingga terucap kata “WOLF” (serigala). Tapi teori ini menyuguhkan suatu kesangsian ketika menemukan fakta bahwa ternyata bahasa manusia itu beragam, jika bahasa memang terbentuk secara natural sebagaimana bel, kenapa bahasa manusia menjadi tidak sama?  Pada akhirnya, Muller menolak teorinya sendiri.

Teori lainnya disebut “YP-HE-HO THEORY”. Teori ini menyimpulkan bahwa bahasa primitif dulu merupakan rangkaian bekerja sama. Kita pun mengalami kerja serupa, misalnya sewaktu mengangkat kayu kita secara spontan dan bersamaan mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu. Karena dorongan tekanan otot muncullah kata tertentu yg kemudian lahir sebagai sebuah bahasa ungkap. Demikian juga yg terjadi dengan orang-orang zaman dahulu. Sewaktu bekerja tadi, pita suara mereka bergetar sehingga terlahirlah ucapan-ucapan khusus untuk setiap tindakan mereka. Ucapan – ucapan tadi lalu menjadi nama untuk pekerjaan itu seperti “HEAVE” (angkat), “REST” (diam) dan sebagainya.

Dari sekian teori dengan subjek yg sama, satu-satunya yg agak bertahan adalah “BOW-WOW THEORY”. Teori ini juga disebut “ONOMATOPOETIC” atau ECHOIC THEORY”.
Menurut teori ini, kata-kata yg pertama kali muncul adalah tiruan terhadap suara alam, seperti guntur, hujan, angin, sungai, ombak samudra dan lainnya. Mark Muller dengan sarkastis mengomentari teori ini dengan mengatakan bahwa teori ini hanya berlaku pada kokok ayam dan bunyi itik, padahal, kata Muller, kegiatan bahasa justru lebih banyak terjadi diluar kandang ternak.

Akhirnya, bagaimana pun sedikitnya presentase kata-kata tersebut, kita tidak bisa mengingkari adanya bahasa-bahasa semacam itu. Dalam bahasa inggris ada kata-kata “BABLE”, RATTLE, BISS, CUCKOO, dan sebagainya. Kosa kata dalam bahasa Indonesia juga memiliki kata-kata sepeti itu, Menggelegar, Bergetar, Mendesir, mencicit, Berkokok, dan sebagainya.

Teori yg lain adalah “GESTURE THEORY”. Yang mengatakan bahwa isyarat mendahului ujaran. Para pendukung teori ini menunjukkan penggunaan isyarat oleh berbagai binatang, dan juga sistem isyarat yg dipakai oleh orang-orang primitif. Salah satu contoh adalah bahasa isyarat yg dipakai suku Indian di Amerika Utara. Sewaktu berkomunikasi dengan suku-suku lain yg tidak sebahasa mereka menggunakan isyarat sebagai bentuk aksi dan kehendak mereka.

Beberapa teori mengenai Asal – Usul bahasa yg telah disebutkan tadi, termasuk dalam kategori teori- teori tradisional.

Dalam perkembangan pengetahuan modern, bahasa kemudian menjadi objek kajian yg sangat penting dan kompleks. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai suatu gejala fisik semata, melainkan juga mengandung aktivitas psikologis. Manusia itu tercipta dengan perlengkapan fisik yg sangat sempurna hingga memungkinkan terjadinya ujaran (kemampuan berbahasa). Namun ujaran, faktor-faktor psikologis pun terlibat.
Sebagai contoh, cobalah bayangkan satu telaga yg dikelilingi pepohonan rindang yg didiami banyak burung dan margasatwa lainnya. Tempat yg digambarkan ini akan berbeda antara satu dengan yg lain.

Mungkin anda akan mengatakan bahwa telaga tadi sangat berbahaya dan menakutkan.
Pusaran airnya bisa menenggelamkan siapa saja. Namun bagi yg lain, telaga ini bisa menjadi sumber kehidupan. Mungkin anda membayangkan di sana akan terdapat banyak ikan segar. Tentu amat menguntungkan. Bagi yg lain, sungai ini bisa menjadi sumber ilham, tempat beristirahat, melemaskan otot-otot sambil menunggu kejatuhan inspirasi.

Dari gambaran ini ternyata ada kesan psikologis yg berbeda. Kesan-kesan ini mesti diucapkan oleh masing-masing dengan ujaran yg pas. Dengan kata lain, kesan-kesan ini mesti diungkapkan dengan vokal, hingga terucapkan kata-kata. Sebagai umpama misalnya dari gambaran sungai tadi akan muncul kata-kata sepeti ; bahaya, ngeri , dalam, dingin, menenggelamkan, hanyut, arus dan sebagainya.

Dari contoh yg menjelaskan salah satu fungsi dan posisi bahasa ini, maka West menyimpulkan : “SPEECH, AS LANGUAGE, IS THE RESULT OG MAN`S ABILITY TO SEE PHENOMENA SYMBOLICALLY AND OF THE NECESSITY TO EXPRESS HIS SYMBOLS”.
–Ujaran, seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk mengekspresikan simbol-simbol itu–.

Pada masa sekarang ini para ahli atropologi umumnya menyimpulkan bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama. Manusia telah jadi penghuni kurang lebih satu juta tahun lamanya. Faktor-faktor yg mempengaruhi perkembangannya menjadi Homo Sapien juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Bentuk tubuh yg tegak, mata yg berbentuk stereoskopis dan celebra cortex yg tidak ada pada hewan lain, telah banyak membantu evolusi manusia. Perkembangan otaknya merubah dia dari setengah manusia menjadi manusia sesungguhnya. Mereka kini mempunyai kemampuan untuk menemukan dan mempergunakan alat-alat dan menemukan metode interaksi yg luar biasa, yakni BAHASA.

Ada juga para ahli yg mengatakan bahwa perkembangan bahasa manusia sama seperti halnya perkembangan bahasa bayi yg sedang tumbuh besar. Otto Jespersen (1860-1943) melihat adanya persamaan antara bahasa bayi dan manusia. Bahasa manusia pertama hampir tidak mempunyai arti, bentuknya hanya seperti lagu saja, sebagaimana ucapa-ucapan bayi. Seiring waktu, ucapan-ucapan tadi menjadi berkembang menuju tahap yg lebih sempurna. Namun demikian ada pertanyaan lain yg berkembang dan menjadi perdebatan pada saat ini, yaitu : “Apakah bahasa itu lahir karena keinginan manusia untuk berkomunikasi denga kelompoknya atau karena dorongan individu, yaitu faktor psikologis sebagaimana dijelaskan diatas? Apakah bahasa yg lebih dulu ada atau masyarakatnya? Kalau mereka tidak hidup dalam masyarakat, maka bahasa tidak akan pernah lahir, tapi bagaimana hidup tanpa Bahasa? Akhirnya pertanyaan ini pun berubah menjadi seperti pertanyaan Klasik layaknya TELUR DAN AYAM.

So, tak ada yg tahu pasti Asal – Usul Bahasa Pertama yg dipake Oleh Manusia. Hanya Tuhan dan Sejarahnya yg Tahu pasti.

Refferensi :

http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/10/asal-usul-kata-bahasa-serta-teori.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos_asal_mula_bahasa

Pengertian dan Fungsi Bahasa

bahasa_A) Arti Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi bahasa menurut para ahli:

– Bill Adams : Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif

– Wittgenstein : Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis

– Ferdinand De Saussure : Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain

– Plato : Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut

– Bloch & Trager : Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.

– Carrol : Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia

– Sudaryono : Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.

– Saussure : Bahasa adalah objek dari semiologi

– Mc. Carthy : Bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir

– William A. Haviland : Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu

Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Sistem tersebut mencakup unsur – unsur :
1. Sistem lambang yang bermakna dan dapat dipahami oleh masyarakat pemakainya.
2. Sistem lambang tersebut bersifat konvensional yang ditentukan oleh masyarakat pemakainya berdasarkan kesepakatan
3. Lambang – lambang tersebut bersifat arbiter (Kesepakatan) digunaka secara berulang dan tetap
4. Sistem lambang tersebut bersifat terbatas, tetapi produktif
5. Sistem lambang bersifat unix, khas, dan tidak sama dengan bahasa lain
6. Sistem lambang dibangun berdasarkan kaidah yang bersifat universal

B) Fungsi Bahasa

1. Bahasa sebagai sarana komunikasi
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya : komunikasi ilmiah, komunikasi bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial, dan komunikasi budaya.

2. Bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi
Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan. Misalnya : integritas kerja dalam sebuah institusi, integritas karyawan dalam sebuah departemen, integritas keluarga, integritas kerja sama dalam bidang bisnis, integritas berbangsa dan bernegara.

3. Bahasa sebagai sarana kontrol sosial
Bahasa sebagai kontrol sosial berfungsi untuk mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi dapat saling memahami. Masing – masing mengamati ucapan, perilaku, dan simbol – simbol lain yang menunjukan arah komunikasi. Bahasa kontrol ini dapat diwujudkan dalam bentuk : aturan, anggaran dasar, undang – undang dan lain – lain.

4. Bahasa sebagai sarana memahami diri
Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan, kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan, psikis, karakternya, psikososial, dan lain – lain. Dari pemahaman yang cermat atas dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkan-nya ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas baru.

5. Bahasa sebagai sarana ekspresi diri
Bahasa sebagai ekspresi diri dapat dilakukan dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Ekspresi sederhana, misalnya, untuk menyatakan cinta (saya akan senatiasa setia, bangga dan prihatin kepadamu), lapar (sudah saatnya kita makan siang).

6. Bahasa sebagai sarana memahami orang lain
Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain, seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang, pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi pribadinya: potensi biologis, intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguines, melankolis, kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemempuan inovasinya, motifasi pengembangan dirinya, dan lain – lain.

7. Bahasa sebagai sarana mengamati lingkungan sekitar
Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya, mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode) mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan,. dan apa kesimpulan.

8. Bahasa sebagai sarana berfikir logis
Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif, deduktif, sebab – akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses berfikir logis, seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir logis merupakn hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif, sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang abstrak tersebut menjadi konkret.

9. Bahasa membangun kecerdasan
Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi, persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai bentuk dan fungsi kebahasaan.

10. Bahasa mengembangkan kecerdasan ganda
Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Kecerdasan – kecerdasan tersebut dapat berkembang secara bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat dibandingkan yang sudah ada.

11. Bahasa membangun karakter
Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasanya, seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana misalnya : rasa lapar, rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya : membuat proposal yang menyatakan dirinya akan menbuat suatu proyek, kemampuan untuk menulis suatu laporan.

12. Bahasa Mengembangkan profesi
Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan, dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mempu menciptakan kreatifitas baru dalam profesinya.

13. Bahasa sarana menciptakan kreatifitas baru
Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya. Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya. Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual. Bakat alam dan bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan suatu kretifitas yang baru.

 

Referensi :

1. Onlinesyariah.com;

2. Wikipedia.com;

3. Kajianteori.com;

4. eprints.uny.ac.id;

5. id.shvoong.com

6. Samsuri. 1991. Analisis Kesalahan Berbahasa. Penerbit Erlangga. Jakarta;

 

@pmarca Says

Marc Andreessen's Tweets in Blog Form

Aldy Forester Blog

Tawaqal, Ikhlas, Pasrah

Catatan Si Aldy

Indahnya Berbagi

DeRie Berbagi..

Just Share Everything..